CGK-DOH

An explore dream discover life episode of an Indonesian family in Qatar


3 Comments

A New Beginning Part 2

Finally, we moved (again). Now with more challenging environment and (hopefully) higher standard of living. I would consider this family moving to Qatar as a new beginning part 2 – as part 1 is for my new beginning. Etihad Airways airplane Airbus A330 took us from Jakarta to Doha via Abu Dhabi, UAE. It was as smooth as silk trip. Evertyhing seems eased by Allah the Almighty. From the point we checked-in, on the plane, arrival, dan headed to the accommodation.

We arrived at CGK airport at about 12.30 PM almost three hours prior to take off. Dengan 2 koper besar dan 2 koper kecil, kami berempat akan memulai perjalanan berjam-jam menuju Doha. Check in di counter Etihad kami dilayani dengan baik. Sepeti biasa barang bawaan cabin melebihi batas 7 kg sehingga perlu kami kurangi sedikit dipindahkan ke koper lain. Selebihnya lancar. Oh ya jangan lupa membuat frequent flyer Etihad. Enaknya, miles anggota keluarga bisa dijadikan satu dengan kepala keluarga membuat pengumpulan miles semakin cepat.

Urusan boarding pass selesai kami menuju ke counter bebas fiskal. Di sini pun urusan lancar. Aku sudah menyiapkan copy NPWP, copy KK, dan copy passport. Anak di bawah 12 tahun bebas fiskal. Petugas saya lihat mengecek keabsahan NPWP, lalu menstempel boarding pass dengan bebas fiskal. Di gate pemeriksaan bebas fiskal, petugas hanya memeriksa boarding pass dengan cepat lalu mempersilahkan kami ke gate pemeriksaan immigrasi. Masih tersisa sekitar dua jam sebelum take off atau satu jam sebelum boarding sehingga kami memutuskan untuk mampir ke salah satu lounge. Lumayan dengan Garuda-Citibank Platinum, aku dan istri gratis, anakku yang kecil juga gratis sementara yang besar cuman bayar 50 ribu rupiah. Menuju ke waiting lounge kami sempat dicegat petugas Etihad. Ternyata mereka memeriksa dengan detail data visa dengan identitas passport. Memastikan spelling, tanggal, dan data lain sama persis. Banyak kejadian penumpang direject begitu sampai di Doha karena ketidaksesuaian data. Lesson learned: Periksa data visa Anda dan keluarga untuk memastikan kesesuaian dengan passport.

Boarding tepat waktu sekitar 50 menit sebelum official take off. Keluarga yang membawa anak didahulukan bersamaan dengan penumpang business. Anak-anak seperti tidak sabar pengen mengoprek fasilitas entertainment padahal fasilitas itu belum aktif sampai pesawat reaching some points int he altitude. Duduk di belakang satu keluarga Indonesia, kami menempati deretan 4 kursi di tengah. Keluarga di depan kami duh….ribut banget hampir di sepanjang perjalanan dengan teriakan anak-anaknya dan bujukan-bujukan ayah bundanya untuk mendiamkan anak-anaknya. Entahlah, apa yang bikin ribut. Didikan orangtua pada anak-anak kecil akan terlihat begitu anak-anak berada di area publik. Soalnya mereka menganggap area publik adalah bukan area orang tua mereka sehingga merasa mereka bebas dari aturan orang tua. Padahal di situ “ujian” sebenarnya.

Tercatat Etihad memberikan dua kali meals selama penerbangan dengan minuman bisa direquest selama penerbangan, di luar air putih dan kacang yang diberikan sesaat sebelum take off dan sesaat sebelum makanan kedua datang (2 jam sebelum landing). Pesanan yang aku lakukan lewat internet disajikan sesuai permintaan. Enaknya kami mendapatkan meals lebih dulu dari penumpang lain. Makanan sea food meals pesananku terasa biasa, mungkin karena overcooked sementara makanan child meals menurut anak-anak enak. Anak-anak juga mendapatkan souvenir berupa travel diary dan boneka Etihad. Mendarat di Abu Dhabi, kami langsung transfer ke ke gate 35 melewati security check dan 15 menit perjalanan jalan kaki melalui koridor berliku. Boarding tepat waktu dan landing tepat waktu. Perjalanan ke Doha yang singkat lebih kurang 45 menit membuat penerbangan tidak terasa. Hanya sandwich atau hot dog yang menemani penerbangan singkat ini. Dari ketinggian, Abu Dhabi waktu malam terlihat semarak dipenuhi deretan lampu jalan atau kompleks perumahan.

And finally, here we go. Welcome to Doha. Sesuai anjuran rekan-rekan, kalau travelling dengan keluarga tidakusah memanfaatkan jasa Al Maha karena family-centered environment di Qatar membuat family diberi keistimewaan. Kami dipisahkan dari penumpang-penumpang lainnya melewati jalur khusus family.Sangat cepat. Keluar dari immigration check aku langsung membeli kartu Hala untuk isteri, lalu menuju areapengambilan bagasi. Alhamdulillah tidak ada yang tertinggal dan rusak. Dan enaknya travelling dengan anak-anak/keluarga – CD games/software lolos X-ray machine.

Om Edy Suhendra yang menjemput kami sudah berada di parkiran tepat di seberang pintu keluar kedatangan, dengan Hyundai Santa Fenya dan bendera merah putih kesayangannya. Kami menembus udara dingin Doha malam itu yang terisi sedikit debu pasir di udara karena badai pasir.

Dan Pasir sepertinya akan jadi bagian sehari-hari berikutnya kami di Qatar, tempat kami memulai hari yang baru. A new beginning.

About these ads


Leave a comment

So little time so much to do….

Aku hanya punya waktu 6 hari untuk membereskan semua urusan di Balikpapan terkait dengan pindahan karenanya semuanya harus serba cepat dan efisien. Datang Jumat malam, Sabtu paginya aku dah harus menyelesaikan satu tugas: jual mobil. Untungnya urusan kredit mobil dengan Bank CIMB Niaga dah diberesin Bunda sebelum aku datang. Jadi BPKB, kunci serep sudah di tangan. Supaya cepat terpaksa lewat jalur dealer. Selisih 2-jutaan dari harga pasar mobil aku lepas. Aku nurut kata temenku, selisih sedikit lepas saja Pak…selisihnya bisa dicari di Qatar…pembeli belum tentu bisa dapat dengan mudah.Urusan mobil beres aku langsung rental mobil. Apa boleh buat…untuk pergerakan selama aku di Balikpapan.

Hari Minggu aku manfaatin untuk belanja beberapa barang yang mau dibawa ke Qatar via shipment. Senin Selasa aku manfaatin untuk urusan perbankan seperti ngurus ATM, internet banking, buka tambahan Niaga Pendidikan, transfer2. Selain itu aku juga ke Notaris untuk me-roya (hapus jaminan) SHM rumah di Balikpapan karena sudah lunas dari KPR dan karena mau dijual. Urusan lain dengan notaris adalah membuat surat kuasa menjual rumah (biayanya 250 ribu) karena pada saat transaksi nanti aku tidak ada di Balikpapan dan diwakili oleh ayah mertua. Oh ya biaya roya yang jalur cepat (kurang dari seminggu) 600 ribu – aku gak tahu tarif resmi BPN berapa. Malamnya dipakai buat packing dan nyiapin barang yang mau diangkut.

Hari Rabu adalah hari terakhir sekolah Faiq. Aku ke sekolahnya untuk ambil leaving certificate dan raport asli.

Kamis adalah hari pengepakan oleh Crown sembari aku beresin beberapa urusan perbankan yang tertinggal seperti transfer US dollar buat pembayaran packing. Malam Jumat adalah malam terakhir kami di Balikpapan.Aku sempet makan bareng ama temen2 Chevron

Jumat pagi, semuanya sibuk. Last minute packing dan last minute briefing. Aku briefing Mbah Kung beberapa to do list selama Mbah Kung di Balikpapan sampai serah terima rumah. Sementara Bunda mem-briefing barang yang nanti  harus di-handover ke temen-temennya. Pesawat Garuda membawa kami ke Jakarta untuk menginap sehari di sana sebelum bertolak ke Doha, Qatar keesokan harinya.


Leave a comment

Etihad

Kenapa waktu berjalan begitu lambat…..penerbangan ini…..waktu tunggu itu….Tidak salah memang yang mengatakan Time flies if you’re having fun dan menunggu adalah pekerjaan yangmembosankan.

Meskipun tidak selama pener bangan terpanjang yang pernah aku lakukan dari Singapore – Moscow – Houston (hampir 22 jam), penerbangan total 11 jam Doha ke Balikpapan (tak termasuk waktu tunggu, transit dan taxi) tetap saja terasa lama.

Penerbangan Etihad ke Abu Dhabi berangkat tepat waktu 22.40 PM. Sebelumnya diantar oleh Hyundai santa Fe-nya Oom Edy aku tiba di Doha International Airport sekitar jam 19.30-an. Counter check-in sudah buka sehingga aku bisa langsung check-in. Sisa waktu hampir dua jam sebelum boarding aku pakai buat makan malam, sholat, browsing internet dan beli buku. Aku masih belum percaya – seperti bayanganku pertama kali datang ke Doha – bahwa bandara international di negara kaya ini tidak banyak menawarkan enjoyment buat penggunanya. Nothing virtually can be done in this tiny airport. Semoga bandara baru New Doha International Airport yang sedang dibangun memberi banyak kenyamanan, dan enjoyment buat penunggu penasaran seperti aku ini.

Penerbangan ke Abu Dhabi sangat singkat. 15 menit pesawat mengudara, pramugari membagikan hotdog lalu mengumpulkan sampahnya 10-15 menit kemudian karena pesawat akan landing. Penerbangan ke Abu Dhabi hanya memakan waktu 45-50 menit.

Lalu, uhhh, Abu Dhabi memberikan kejutan, begitu masuk ke transit lounge, penumpang dipaparkan pada atrium sentral bundar dengan tiang bermotif mozaic yang penuh dengan kerumunan banyak orang yang sibuk mencari-cari arah ke gatenya masing-masing serta kepungan toko duty free. Seolah Abu Dhabi menyuruh sok belanja dengan nada memaksa. Kalau Anda pernah transit di Singapore, di Domodedovo Moscow, atau LAX Los Angeles, Anda akan percaya bahwa begitu datang dan langsung dihadapkan pada kerumunan banyak orang dan masuk ke labirin duty free adalah sambutan yang kurang menyamankan.

Selepas atrium dan melewati security check, aku mesti melewati koridor panjang sejauh 15 menit jalan kaki (andai kecepatan jalan kaki adalah 6 km/jam rata-rata maka jaraknya adalah 1.5 km). Tidak menunggu lama, aku boarding tepat waktu ke pesawat airbus A330 Etihad yang akan membawaku ke Jakarta.

Praktis satu jam aku berada di dalam perut pesawat bernada beige di interiornya ini sampai pesawat take-off. Fasilitas kamera di bawah pesawat dan di depan pesawat cukup mampu mengagumkan anak desa ini – (baru kali ini jek naik pesawat dengan fasilitas kamera – tidak juga pesawat antar benua milik SIA yang aku tumpangi 5 bulan lalu).

Beberapa catatan mengenai tiket, layanan dan performa Etihad yang aku tumpangi:

-          Layanan ground handling bagus.

-          Boarding, take off dan landing tepat waktu dengan margin tidak sampai 10 menit

-          Leg room Etihad jarak pendek (A319) lebih roomy dibanding Etihad jarak jauh (A330)

-          Makanan sesuai pesanan via internet. Kualitas tidak konsisten. Kadang enak kadang biasa. Kebanyakan overcooked.

-          Layanan di udara cukup bagus

-          Entertainment dengan pilihan games, movie, audio, TV, communication, dan maps/camera. Pilihan film terbaru terbatas. Musik dan film Indonesia agak terbatas dibanding misalnya SIA atau Qatar Airways jarak jauh.

-          Amenities standard

-          Harga tiket saat itu: QAR2980 (round trip, satu level di atas tiket termurah QAR2500).


3 Comments

Menjemput Impian

….kan ku jemput dikau sang puteri pada saatnya nanti….(Kla Project, Menjemput Impian)

And the time is now. Aku lagi balik menjemput keluarga dan mengurus semua urusan perpindahan selama delapan hari di Indonesia. Berangkat 19 Februari malam, aku akan balik lagi ke Doha 28 Feb 2009.

[Check back in the next few days with more stories from my trip, I am veryvery busy now....he...he...doain semua urusan beres]


Leave a comment

A long waited key…

Kamis, 8 Januari lalu, “kunci” yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Bukan kunci rumah atau mobil. Tapi RP, Residence Permit. Mengapa saya sebut kunci? Karena dengan RP kita bisa membuka pintu untuk melakukan banyak hal yang tadinya tidak bisa kita lakukan tanpa RP: apply family visa, apply credit card, apply loan, apply permanent RLC dan plant pass, beli mobil, apply Qtel services, apply driving license, dan banyak lagi services dan privilege yang hanya bisa didapatkan kalau kita sudah mendapatkan RP.

RP punyaku selesai setelah 40 hari calendar days atau 21 hari kerja (hari kalendar dipotong weekend, libur Eid Adha, libur National Day, Christmas, dan New Year). Medical Test tanggal 1 December 2008 aku baru fingerprint tanggal 22 December 2008. Jangan kaget kalau antar applicant bisa mendapatkan waktu penyelesaian yang beda. Orang Pakistan berpassport Australia yang medical test bareng aku, mendapatkan schedule fingerprint 1 minggu sebelum aku. Orang Pakistan berpassport Pakistan yang barengan fingerprint selesai 3 hari sebelum aku meskipun dia medical testnya dia duluan (tapi diulang karena berkasnya hilang!). Entahlah….aku yang kurang beruntung atau karena embel-embel yang melekat di diriku….I aint gonna guess..it had happened

Tidak ada standard waktu antar tahapan RP atau selesainya RP. Dan aku kurang tahu apakah ada “sedikit” prioritas untuk passport negara tertentu atau company tertentu – meskipun aku yakin “credibility negara dan bonafitas perusahaan sedikit banyak menentukan” – , tapi yang pasti mereka yang apply di tengah jadual libur (i.e. summer, school break, Eid Fitr atau Adha) dipastikan akan mengalami delay dalam mendapatkan RP-nya. Kata seorang teman, ada orang Indonesia yang datang ketika bulan Ramadhan baru mendapatkan RP-nya setelah 3 bulan! akibat libur, dan pendeknya waktu kerja di Ramadhan.

Jika Anda bermaksud memulai kerja di sini, ada baiknya starting datenya diatur sehingga tidak berbarengan dengan jadual libur di sini. Dan,….turunkan ekspektasi Anda dalam hal waktu selesai dan turunkan sensitifitas Anda in case Anda mendapati seseorang lebih cepat dari Anda padahal applynya barengan. Just enjoy it…

Sekarang aku tinggal nunggu Family Visa yang katanya akan selesai dalam 2 minggu…let’s see how it’ll happen…will let you know…wish me luck


Leave a comment

Tatweer Compound

[Update: I heard that this compound is no longer used as a temporary accommodation for Qatargas.]

Kompleks ini adalah temporary accommodation yang disediakan oleh Qatargas dan Rasgas untuk pegawai barunya. Biasanya menjadi tempat transit dari hotel ke permanent accommodation. Semua tipe kamar adalah one-bedroom, dengan luas total kamar sekitar  100m2.

Facilities and Service:

1         1 kamar tidur ukuran 4.5×4.5 m2 dengan 2 side table, 1 lemari baju dan 1 meja rias

2         1 kamar mandi  dalam dengan shower

3         1 ruang tengah yang menyatu terdiri atas foyer, ruang makan, dan ruang tamu/TV

4         1 kamar mandi luar (tanpa shower facilities), dekat foyer

5         1 dapur

6         Furniture: sofa 2 seater, sofa 4 seater, meja tamu, sofa 1 seater, karpet, meja makan dengan 6 kursi, nakas, cermin, 2 lamp table berikut lampunya, alas setrika dan meja TV

7         Electrical appliances: TV dan decoder cable TV (dengan 1933 channel, tak semuanya ada), telephone (land line), 3 AC (ruang tengah, kamar tidur, dan dapur), refrigerator dua pintu, oven dan kompor listrik 4 titik, dish washer, washing machine, microwave, electric kettle, toaster

8         Utensils: knife set, sauce pan, frying pan, codet, sendok garpu pisau makan, cangkir, mug, piring besar, piring kecil, piring sup

9         Others: tempat sampah, sapu kecil, rak piring kecil

10     Services: sapu dan pel, bed turn down, towel changing (mungkin tiap 3-7 hari sekali), pest control

11     Welcome Food Pack: makanan dan minuman untuk memulai hidup baru; bisa untuk 3-7 hari. Terdiri atas: roti tawar, selai, susu kotak, jus, margarine, air mineral , susu cair, cereal, tisu gulung, hand wash, telur, teh, gula, kopi

Secara kompleks, menurut Security ada 48 kamar dengan 6 blok bangunan. Blokku terdiri atas 6 kamar di bawah dan di atas masing2 dengan koridor besar di tengah. Antar blok terdapat area berpaving stone yang cukup luas. Ada kolam renang berbentuk angka 8. Ada 2 Security post. Dan ada garasi tak beratap untuk puluhan mobil dengan rolling door yang bisa digerakkan oleh remote. Aku lihat baru satu orang yang bawa mobil. Maklum, semua rata-rata orang baru yang mungkin lulus driving test aja belum…he….he..

Locality, compound ini terletak di daerah Feerej Kulaib area (simpang jalan Al Marri/Al Fajr Street). Dekat dengan Doha English Speaking School, dekat TV Signal Roundabout di mana di situ ada Nissan Dealer, ada Al Jazeera TV. Agak jauh dikit kurang lebih 15 menit jalan kaki ada Al Ahli Hospital, Al Markhiya Complex, dan Town Center. Di Al Markhiya Complex dan Town Center bisa ditemukan McD, KFC dan Burger King. Mesjid ada banyak di sekeliling. Yang besar 10 menit jalan kaki (deket German Embassy), yang kecil 2-5 menit jalan kaki. New Taif Supermarket yang cukup lengkap (dari mulai food and beverages, electronic, stationeries, sandal, frozen food, buah-buahan) dan harga yang bersaing(harga cuman selisih 0.25-0.5 dengan Carrefour) gak sampai 5 menit jalan kaki. Gak jauh dari supermarket ada 3 restoran yang menjual masakan Arab dan India. Agak jauh dikit, ada University Book Shop yang jual alat tulis, di sekitarnya ada tempat potong rambut, bank, dan toko dan offices. Hanya dipisahkan oleh satu jalan dari compound ada halte bus Karwa ke arah Bus Terminal – Al Ghanim.

Mau yang agak jauh, ada Landmark Mall dengan Carrefour-nya yang – please jangan coba , cukup aku aja – bisa ditempuh dalam 45 menit jalan kaki – versi mantan pendaki gunung seperti aku. Dengan waktu yang kurang lebih sama, Corniche mungkin bisa dicapai – nah yang ini belum dicoba.

Penghuni, macam-macam kebangsaan. Entah kenapa, India masih mendominasi. Ada mungkin 5-10 orang dari Indonesia. Ada yang dari Srilanka, Egypt, Pakistan dan somewhere elses. Komunikasi dan sosialisasi agak jarang, kecuali selama nunggu bus atau selama di bus.

Yang disebut temporary accommodation bervariasi termnya. Ada yang sudah 3 bulan belum pindah ke permanent. Ada yang hampir dua bulan sudah dapat. Aku? Semoga tidak terlalu lama. Waktu ini ditulis aku baru 9 hari tinggal.

Tatweer Compound - As seen from Doha English Speaking School

Tatweer Compound - As seen from Doha English Speaking School

Tatweer Compound - Corridor to individual room

Tatweer Compound - Corridor to individual room

 

Tatweer Compound - Public area between blocks

Tatweer Compound - Public area between blocks

Tatweer Compound - Room as seen from entrance

Tatweer Compound - Room as seen from entrance

Tatweer Compound - Bedroom

Tatweer Compound - Bedroom

Tatweer Compound - Kitchen

Tatweer Compound - Kitchen

Tatweer Compound - Sang Penunggu Kamar

Tatweer Compound - Sang Penunggu Kamar


Leave a comment

Minggu Kedua

Hari ke-8: 3 Dec – Selesai dan Menggantung

Beberapa hal sudah selesai tapi ada juga yang menggantung:

-          Bank account selesai, ATM dah dapat dari QNB – Qatar National Bank

-          Tapi belum bisa menyerahkan nomer back account ke accounting buat salary transfer

-          Salary advance juga belum selesai

-          Pindah ke temporary accommodation (dibahas detail nanti)

-          Baca lanjutan GTL Loading, baca QRA

Hari ke-9: 4 Dec – Emergency Drill dan Internetan Pertama

Hari ini setengah hari aku ikut emergency drill – crisis management drill tepatnya. Kali ini drillnya unannounced – sengaja untuk surprise manajemen menjelang libur panjang Eid Hajj 5-10 Dec. Scenarionya pipa pecah karena anchor dragging yang berpotensi menyebabkan casualties akibat H2S. Big ticket items lebih kea rah communications dari incident commander, dan strategic action dari management (instead of tactical action). Entah kebetulan atau tidak, satu minggu sebelum aku pergi ke Qatar aku ikut emergency drill di Cehvron, dan kini satu minggu setelah datang di Qatar aku ikut drill juga.

PC belum ada, jadi aku manfaatin baca dari hardisk yang aku bawa mengenai safety studies di lain tempat.

Pulang ke temporary accommodation di Tatweer, aku bergegas pergi ke supermarket terdekat untuk beli kartu internet prabayar karena udah janjian ama isteri.

Hari ke-10: 5 Dec 08: Webcam Berhasil!

Dapet berita Fathan panas. Padahal paginya, (jam 2 malam waktu sini), dia nelpon aku, sendiri!

Jumatan di mesjid terdekat. Akhirnya webcam berhasil meski gambar dari Balikpapan kadang tak bergerak. Ini obat kangen yang lumayan lah.

Hari ke-11: 6 Dec 08: Risiko Moving

Baca.Baca. Baca. Hampir finish nih baca CPQRA-nya. Pagi keliling kompleks sambil cari Doha English Speaking School yang menurut peta ada di arah timur laut. Sudah dikelilingi gak juga ketemu, belakangan aku baru nyadar itu sekolah posisinya di depan Tatweer Complex, tapi arah barat laut. Dari Tatweer memang cuma keliatan tembok-tembok aja.

Kontak-kontakan dengan Sunowo, teman kuliah di ITB dulu. Doi tinggal di Al Muathier dekat Villagio katanya.

Fathan masih panas. Takutnya demam berdarah, karena ada temen satu sekolahnya terkena dan dua temennya masuk RS. Syukurnya hasil cek darah bagus. Disuruh cek dua hari lagi. Diberi obat panas juga.

Sorenya webcam-an lagi. Sedih euy, dua-duanya nahan kangen. Bunda sampai gak kuat. Sigghhhh….inilah risiko moving…….Ada masa di mana aku tidak bisa kumpul dengan keluarga untuk waktu  yang lama.

Hari ke-12: 7 Dec 08 – Landmark Mall

Tadinya aku merencanakan mau lihat Museum of Islamic Art yang baru buka, tapi berhubung susah dapat taxi, dan jarak yang jauh untuk dijalani kaki, maka kuurungkan ke sana. Akhirnya sasaran dipindahkan ke Landmark Mall, kebetulan belum pernah ke sana dan ada yang mau dibeli seperti mouse, headset, kabel, dll. di Carrefour.

Semuanya dapet kecuali mouse. Pulang ke rumah, masak, makan, baca lalu mandi. Sore nyante online sambil nunggu Bunda online juga. Download beberapa software, cek email, cek berita Indonesia.

CPQRA habis dibaca. Khalas! ceu urang sini mah…

Malem tidurnya agak awal. Mata dah berat karena kecapekan.

Hari ke-13: 8 Dec 08 – Eid Adha

Bangun pagi banget. Ada sms dari Balikpapan sapi kurbannya udah dipotong. Sholat Eid di masjid terdekat. Mampir beli Koran di supermarket, lalu nyuci. Sambil nungguin cucian, online buat nyari sekolah-sekolah. Alhamdulillah semuanya sudah di-browse dan disave. Tinggal baca-bacanya nanti. Sempat ol chatting bareng gharonk dan igo. Lihat tv sempet ketiduran bentar, sebelum bangun makan siang dan sholat.

Coba skype, awalnya lancar suara dan videonya tapi kemudian putus-putus. Akhirnya balik ke YM.

Sore baca-baca risk management suatu company, karena bos nyuruh bikin yang sama untuk QG. Ada dua sementara yang bisa dijadikan benchmarks.

Malam YM!-an sama Bunda, lagi-lagi intermittent connection mengganggu, but overall sangat mengasyikkan.

Hari ke-14: 9 Dec 08 – Lesson Learned dari Washing Machine

Bangun pagi nyetrika, gak terlalu banyak sih, tapi lumayan juga setelah sekian lama gak pernah nyetrika. Sepertinya ngeringin cuciannya terlalu lama di washing machine jadi agak susah ngelicinin kusut-kusut baju. Maksudnya, pake mesin cuci front loading, baju dipuntir dan dibanting-banting kemudian dikeringkan dengan panas, sama seperti menyetrika, sehingga kusut2nya jadi agak susah dilurusin. Lesson learned lah.

Habis mandi ke supermarket untuk stok barang yang udah habis. After that, kembali ke laptop untuk baca geral specification risk assessment methodology suatu European oil company – sambil ditemenin music Indo dan secangkir susu putih dingin….walah…..Asyik…..

 Cuaca di luar cerah tapi masih dingin, jadi masih gak perlu nyalain AC.

Makan siang beli di luar. Pas jalan pulang dapet sms kalo Faiq ranking 1 di les bahasa inggrisnya. Siang-siang pas lagi baca di kamar tidur dapet sms lagi kalo Dd panas. Gak tahu kenapa. Tapi Bundanya seringkali mergokin dia cium-cium foto ayah yang ada di hp. Panas karena kangen kali. Bundanya bilang I I wish you were here. Aduh jadi sedih.

Malamnya YM!-an. Eh ada Faiq….sayang hari sudah malam di sana jadi YM!-annya gak terlalu lama. Lain kali ya Nak. Bunda ngeliatin gelang yang dia beli.


6 Comments

7 Hari Pertama

7 Hari Pertama

Hari ke-1

Jam 6.30 aku dah sampai hotel. Waktu check-in aku diberitahu receptionist bahwa Qatasrgas menanggung makan sebesar QR300 per hari dari restaurant hotel dan laundry QR400 per minggu. Setelah beres-beres dan foto-foto kamar, aku istirahat. Mengusir sedikit jet lag dan sleep deprivation selama terbang. Bangun siang, kontak Wemphy dan Igo, lalu keliling sekitar hotel. Dengan udara yang nyaman, meskipun siang hari – sebelum nanti menjadi sangat dingin di Januari/Februari – sungguh ini waktu yang tepat untuk menikmati Qatar. Jalan kaki aku mengelilingi blok daerah Al Sadd, melewati Royal Plaza, Lulu Center (yang sialnya tutup sampe sore nanti) dan berakhir di Al Asmakh Mall/centrepoint). Ada mungkin setengah jam-an. Dari Al Asmakh Mall aku naik taksi ke City Center. Beli Hala card (kartu GSM prabayar), dan beberapa snack dari Carrefour. Untuk beli Hala Card, cukup menyerahkan fotokopi passport. Kalaupun tidak punya, mereka punya mesin fotokopi. Biayanya QR50 dengan QR25 credit di dalam kartu. Sayangnya sekarang tidak ada lagi taksi Karwa yang standby di City Center, sehingga terpaksa aku pakai taksi limusin – QR30.

Malamnya, aku ketemu Wemphy di The Coffee Beanery – coffee shop di hotel. Kita ngobrol banyak hal, dari mulai Balikpapan, temen-temen, kehidupan di Qatar, kerjaan, dan banyak hal lainnya. Saking enaknya ngobrol sampai tak terasa udah hampir jam 11 malam.

 

Hari ke-2: 27 Nov 2008 – Kawan Lama dan Baru

Hari ini mulai kerja! Driver menjemput jam 8 dan mengantarkanku  - di luar perkiraanku ke Ras Laffan – ke kantor sementara HR di Doha. Kata orang HR, semua support function (HR, finance, accounting) akan dipindah ke Doha, jadi site office di Ras Laffan hanya untuk core function: operation maintenance, engineering, project mengingat tingginya demand office untuk mengakomodasi Expansion Startup (ESU) team. Di kantor HR ini aku bertemu Mr. Zakir – recruitment liaison, dan Mrs Elisa – technical recruiter – yang dulu mewawancaraiku. Aku diberikan package orientation yang berisi employee handbook, company policy, immigration procedure, work procedure, dan formulir-formulir yang harus diisi. Passport, foto dan work visa diserahkan ke HR untuk pengurusan Residence Permit. Aku juga menandatangani Contract Employment. Ternyata service dateku dimulai bukan 27 Nov 2008 hari ini, tapi mulai dari tanggal mobilisasi 25 Nov. Jam 3 semua urusan selesai dan aku diantar ke hotel.

Sore-sore Wemphy telpon mengundang makan malam di rumahnya. Rumah Wemphy ternyata dekat banget dengan hotelku. Sekitar 10-15 menit jalan kaki. Wemphy menyewa sebuah apartment/flat dua kamar tidur di daerah Al Sadd. Aku bertemu dengan Karim (Qatar Airways), Emil (Nokia), Ilham (Qatargas), Sanggam (Vico) – semuanya temen baru yang belum pernah aku kenal, kecuali Ilham yang sempet aku kirimin Add Connection via Linkedin. Makan-makan berakhir jam setengah sepuluhan dengan action items main golf besok paginya di Doha Golf Club.

Aku dan Wemphy - temen satu team di Chevron Balikpapan

Aku dan Wemphy - temen satu team di Chevron Balikpapan

Kawan Baru - ki.ka. Karim, Emil, Ilham

Kawan Baru - ki.ka. Karim, Emil, Ilham

 

 

Hari ke-3: 28 Nov 2008 – Dunia Memang Sempit, Dunia Memang Kontras

Jam 7 pagi yang dingin, Wemphy dan semua yang hadir tadi malam, kecuali Sanggam, sudah menjemputku di hotel. Doha Gulf Club ada di utara Doha, mungkin antara 10-15 km dari pusat kota. Untuk 30 bola, kami membayar QR30. Di sini aku belajar “nyangkul” pertama kalinya. Sambil mukul-mukul, pembicaraan mengalir mengenai fotografi – karena kebetulan aku bawa D60 – , golf, dan dunia laki-laki lainnya.

Selesai nyangkul jam 9, kami ngobrol sambil ngopi di coffe shopnya. Ada Pak Riswan – Operation Specialist Qatargas -  yang ikut nimbrung. Kali ini obrolan selain golf, juga mengenai Indonesia, Doha, dan kerjaan. Menjelang jam 10 kita bubar karena bentar lagi jumatan. Diantar ke hotel, aku janjian ama Wemphy untuk jumatan.

11.15 Wemphy dah jempu aku di hotel untuk jumatan. Tapi karena waktu yang tidak cukup kami tidak jadi ke QICC (jumatan dengan kutbah dalam bahasa Inggris) tapi ke sebuah mesjid dekat rumah Wemphy. Siangnya aku menjamu Wemphy makan siang di hotel – lumayan manfaatin fasilitas dari kantor.

Malamnya, Wemphy lagi-lagi ngajak aku gabung pergi ke Villagio. Ini pertama kalinya aku Villagio – mal dengan kanal buatan dan gondola di dalamnya. Ternyata kami bertemu lagi dengan Ilham, dan Emil. Dan dunia begitu kecilnya, aku bertemu dengan kakak kelas dari daerah asal – Lumajang. Aku tahu jurusan, dan kosnya dulu tapi malah lupa namanya – belakangan aku tahu namanya – Anto. Dia kerja di Ras Gas.

Dalam perjalanan pergi dan pulang ke Villagio,melewati jalan dengan semarak lampu yang benderang, aku jadi menengok ke belakang, mengenang saat-saat di Balikpapan di mana lampu jalan dimatikan karena electricity shortage sehingga untuk jalan ngandelin penerangan lampu mobil atau bangunan sekitar. Duh kontrasnya. I hope that Balikpapan will find its way to solve that long lasting problem. I really hope.

Acara selesai jam 10.30-an.

Hari ke-4: 29 Nov 2008 – Terkapar!

Hari ini mestinya aku ketemuan ama Igo. Sayangnya hidung meler dan batuk kok semakin menjadi. Aku putuskan untuk istirahat aja di hotel dan membatalkan janji ketemuan. Sempet baca-baca buku QRA, dan makan di hotel, tapi mostly aku istirahat di kamar.

Hari ke-5: 30 Nov 2008 – Induction Day

Hari ini aku ke Ras Laffan Office. Untuk ke Ras Laffan – 80 km utara Doha – orang memerlukan sekitar satu jam driving. Di Ras Laffan Industrial City (RLIC) – semacam Jurong Island di Singapore – bermukim Ras Gas, Qatargas, Oryx GTL, Dolphin, Pearl GTL, Laffan Refinery, Kahrama Power Generator and Desalination Plant, dan Ras Laffan Port. Untuk masuk ke RLIC orang perlu punya temporary pass – untuk visitor harus disponsori oleh perusahaan yang ada di situ, atau permanent pass untuk mereka yang bekerja di situ.

Nyampe di kantor, aku disambut ama Hasan Husni Abunada – Head of Loss Prevention Engineering. Aku kemudian diantar ke Training Center untuk mengikuti Plant Induction. Plant Induction di sini lebih dititikberatkan pada pengetahuan kita mengenai hazards di plant, peraturan dalam plant area dan bagaimana response kita terhadap situasi emergency. Hazard yang terutama adalah H2S, dan induction menekankan bahwa kita harus mengetahui bahayanya, mengetahui di mana posisi kita, arah angin dan muster point yang aman, bukan terdekat, jika terjadi kebocoran gas. Mungkin ini salah satu inductionku yang terbaik yang pernah aku ikuti. Interactive dan sangat jelas dengan penggunaan piranti media presentasi yang mumpuni.

Induction berakhir jam 11. Aku kemudian pergi ke Bhaskaran – personnel admin supervisor, untuk ngurusin masalah expense claim, bank account dan salary advance. Ternyata kita bisa mengajukan salary advance maksimum 50% gaji sebulan – meski nantinya aku baru tahu prosesnya ternyata agak lambreta.

Siangnya aku melakukan orientasi dengan Hasan dan termasuk perkenalan dengan member dari SEQ department.

Hari ke-6: 1 Dec 2008 – Medical Test Residence Permit

Hari ini rencananya aku medical test untuk pengurusan residence permit. Medical Test dilakukan di Medical Commission. Oh ya untuk syaratnya adalah passport asli, work visa, nomer HP, dan pengantar dari company.Jam 7 aku udah antri di depan office, sementara di dalam sudah ada sekitar 100 orang duduk mengantri. Jam 7.15 baru aku masuk ke dalam. Di dalam, antrian ditempatkan dalam dua bagian kiri dan kanan, masing-masing dengan 33 kursi (11×3). Kalo yang depan sudah disuruh berdiri antri di depan 4 booth kasir, orang di belakang maju ke kursi depannya, begitu seterusnya. Proses medical test sangat simple, hanya blood drawing dan x-ray. Untuk food handler ada clinical examination. Jam 8 lewat 5 aku udah menyelesaikan pembayaran di kasir sebesar QR100 (dibayarin company). Di kasir aku juga diambil fotonya. Setelah mendapatkan receipt dengan barcode tertentu, aku pergi ke ruangan di sebelah kanan, Blood Drawing Reception. Menyerahkan receipt aku mendapatkan satu botol untuk ambil darah di ruangan sebelahnya. Setelah itu pergi ke ruangan X-ray di sebelah kanannya lagi. Ada ruangan massal ganti baju, yang udah ganti baju antri sebelum dipanggil. Keseluruhan proses selesai jam 08.30. Ternyata aku diantar balik ke hotel, bukan ke Ras Laffan – menurut driver orang Srilanka, memang medical test dan finger print day adalah holiday. Ada enak dan gaknya. Gaknya karena banyak yang harus diurusin sebagai new employee. Setelah telpon HR aku baru yakin boleh gak ke kantor.

Sesampai di hotel aku arrange transport untuk besok ke Ras Laffan. Sorenya aku pergi cari laptop di Carrefour dan Jarir bookstore. Harganya tidak jauh beda. Di Jarir lebih mahal QR50 tapi mendapatkan tas laptop dan optical mouse. Pilihanku jatuh ke HP Pavilion dv5-1110ee.

Malamnya dinner di hotel. Kebetulan ada new employee Qatargas orang Pakistan berpassport Australia yang menginap di hotel yang sama dan pergi medical test sama-sama. Kami ngobrol banyak hal mengenai Australia, Qatargas, India-Pakistan, keluarga dan Qatar.

Hari ke-7: 2 Dec 2008 – Meeting and Boring

Pergi ke Ras Laffan, aku barengan sama orang Australia – David Borrill – yang kemudian aku ketahui dari Truscott Crisis Leader yang mendampingi Qatargas untuk melakukan crisis emergency drill tanggal 4 Dec nanti. Beberapa highlight hari ini:

-          Monthly meeting dengan Expansion Startup Team di project office (qatargas II)

-          Membuka bank account (dengan pengantar dari Personnel Admin)

-          Memasukkan salary advance request

-          Mendapatkan print email mengenai perpindahan ke temporary accommodation

-          Mendapatkan userid dan password tapi belum ada PC

-          Dikontak Manulife untuk menyerahkan surat referensi bekerja di Chevron untuk pengurusan penarikan dana

-          Diberi tugas mereview Loading GTL Diesel in Low or No Wind Condition

Karena belum ada PC, not so much yang bisa aku lakukan, selain membaca referensi tugas. Sedikit boring.


1 Comment

Waktunya Datang Juga

Waktunya datang juga. Sebagian diriku menginginkannya tapi sebagian lainnya tidak. Yang tidak purely karena aku bakalan pisah dengan keluarga untuk waktu yang tidak sebentar, mungkin dua bulan, mungkin tiga bulan, atau lebih. Tadinya aku menjadualkan tanggal 28 Nov, tapi pihak Qatargas menginginkan lebih awal jadinya maju menjadi tanggal 25 November. Mungkin pertimbangan adanya libur Eid Hajj (di sana libur tiga hari, 1 hari sebelum, dan 2 hari sesudah).

Maka berangkatlah aku hari itu. Aku bilang ke istriku, aku berangkat dengan kerinduan akan kalian dan semangat untuk berjuang demi kehidupan yang lebih baik. Ada keharuan dan tetes air mata, tapi ada kepolosan di mata anakku – “Ayah pulang jam berapa?” – tanpa sadar bahwa dia tidak akan bertemu ayahnya untuk beberapa bulan ke depan. I will miss you so  much!

Garuda GA521 delay dari jam 17.40 menjadi 18.35, jadi waktu yang panjang aku manfaatin di dua lounge: BlueSky dan Executive Lounge. Pesawat Qatar Airways sendiri akan depart jam 22.25 WIB dari CGK, jadi ada waktu yang cukup untuk transfer. Proses transfer sih lumayan mulus. Meski petugas sempet meminta mengurangi koper kabin sedikit karena jarum timbangan sudah menunjuk angka 11 kg. Petugas juga meminta copy dari visa ke Qatar. Jadi siapin extra copy ya.

Departure tepat pada waktunya. Pesawatnya tidak terlalu penuh. Sebagian di antaranya dipenuhi oleh pasukan tentara PBB dari Indonesia. Entah mau ke mana mereka. Transit di Singapore sekitar satu jam barulah pesawat agak penuh, termasuk saya lihat rombongan tenaga kerja, entah dari Indo Sing atau Malay, terlihat dari seragam hitam putih dan dasi yang mereka kenakan.

Nothing so special selama perjalanan. The food is good, the flight is normal tanpa gangguan. Satu yang aku saranin mungkin bawalah botol minuman kosong, kemudian isi dengan air dari cooler setelah security check ketika transit di Singapore. Bukan apa-apa, untuk menghindari dehidrasi.

Pesawat landing tepat waktu. Sekitar jam 5.15 pagi. Berbeda dengan kedatangan pertama bulan September lalu yang panas kali ini udaranya dingin. Petugas dari Al Maha dan Qatargas menjemputku untuk kemudian mengantar ke hotel: Al Sadd Merweb.


3 Comments

Tentang Situs Ini

Well, selamat datang. Situs ini sebenarnya dibuat untuk media komunikasi Keluarga Wahyu selama kami di Qatar buat temen-temen, saudara, dan orang-orang yang ingin terupdate dengan kabar kami. Rajin-rajin berkunjung karena kami juga akan rajin meng-updatenya. Jangan lupa tinggalin pesan ato comment!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 146 other followers